VISI KAMI

“ AGAR HAK DAN MARTABAT MANUSIA SEBAGAI CITRA ALLAH DIAKUI DAN DIHORMATI. ”

Perdagangan Manusia Dalam Berita

18 TKI diselamatkan dari sindikat perdagangan orang 29 Maret 2014

Kuala Lumpur (ANTARA News) - Polisi Malaysia belum lama ini berhasil menyelamatkan 18 TKI dan tiga warga negara Filipina dari jaringan sindikat perdagangan orang, menyusul penangkapan atas Iyad Mansour (Warga Negara Yordania) yang merupakan pemimpin sindikat tersebut.

Oleh sindikat tersebut, ke-18 TKI dan tiga WN Filipina itu dijanjikan bekerja di Yordania, demikian keterangan pers KBRI Kuala Lumpur yang diterima ANTARA, Jumat.
Informasi penangkapan terhadap pelaku perdagangan orang itu diperoleh pihak KBRI Kuala Lumpur setelah menerima surat dari Polisi Diraja Malaysia pada Rabu (26/3).
Dalam kaitan ini, polisi Malaysia juga menyita cap Kementerian Luar Negeri Kerajaan Yordania dan Kedutaan Besar Yordania di Jakarta, yang dicurigai dipalsukan.

lyad Mansour (47 merupakan otak pelaku/pemimpin sindikat tindak pidana perdagangan orang yang menjual dan menyalurkan korbannya ke beberapa negara konflik dan negara bukuan tujuan penempatan di Timur Tengah.
Dalam aksinya, lyad Mansor merekrut WNI yang bertugas mencari calon korban di Indonesia. Dengan ditangkapnya lyad Mansour diharapkan menjadi pintu masuk bagi aparat berwenang di Indonesia untuk membongkar jaringan sindikat tersebut di tanah air.
Penangkapan lyad Mansor ini merupakan hasil kerja sama dan komunikasi yang intensif antara KBRI Kuala Lumpur dan Perwakilan Indonesia di Timur Tengah khususnya KBRI Amman, KBRI Damaskus dan KBRI Kairo.
Kerja sama dan komunikasi tersebut dilaksanakan terus menerus dengan menggali informasi dari berbagai sumber mengenai modus operandi penempatan TKI ke Timur Tengah secara nonprosedural melalui Kuala Lumpur Malaysia.
KBRI Kuala Lumpur terus berkomitmen untuk meningkatkan kerjasama dengan otoritas Malaysia dalam pemberantasan kejahatan perdagangan orang.

Sumber : [.....]

-------------------------------------------**********-------------------------------------

Korban Perdagangan Manusia Dipaksa Tenggak Minuman Keras 28 Maret 2014

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan salah satu anak korban perdagangan manusia ada yang mengalami tindak kekerasan yang dilakukan oleh oknum paguyuban Bina Jasa Mina (agen perekrut anak buah kapal nelayan).
"Ada satu orang yang mengalami kekerasan inisialnya FS yang masih berumur 14 tahun," kata Sekertaris Jenderal KPAI, Erlinda kepada wartawan, Jumat (28/3/2014).
Erlinda menjelaskan, FS mengalami sejumlah tidak kekerasan seperti pemukulan, tendangan, dan tamparan jika tidak mematuhi apa yang diperintahkan kepadanya. Bahkan, lanjut Erlinda, FS dipaksa untuk menenggak minuman beralkohol dengan alasan agar kuat saat berlayar ketika menjadi ABK.
Menurutnya, saat ini pihak KPAI sudah melakukan visum terhadap korban dan hasilnya sudah diserahkan ke Polres Pelabuhan Tanjung Priok. Dari hasil visum teridentifikasi korban mengalami kekerasan di bagian muka, hidung, mulut, dan dada korban. Korban tidak mengalami kekerasan seksual, kata Erlinda.
Adapun, FS sendiri diketahui sudah bekerja selama setahun di agen tersebut. Selama itu pula ia mengalami tindak kekerasan baik oleh pegawai maupun petugas keamanan yang bekerja di agen berkedok jasa tersebut.
Dari hasil penelusuran yang dilakukan KPAI dan kepolisian terhadap keluarga korban, kata Erlinda, FS diketahui sudah tidak memiliki keluarga lagi. Sehingga korban dirawat di rumah sosial di daerah Cipayung.
"Di sana dia akan direhabilitasi psikologisnya serta diberikan kemampuan atau skill agar bisa mandiri," tuntasnya.
Seperti diketahui pada selasa kemarin, pihak Polres Pelabuhan Tanjung Priok menggerebek sebuah Ruko Muara Baru Center lantai 3 yang ditempati oleh paguyuban Bina Jasa Mina. Dari Ruko tersebut diketemukan 19 orang di mana ada 3 anak termasuk kategori di bawah umur dan menjadi korban perdagangan anak.
Dari kejadian tersebut polisi pun menetapkan lima tersangka terkait kasus ini. Kelima orang itu: MY, 35 tahun; S, 43 tahun; YA, 41 tahu; HA, 42 tahun; SM, 44 tahun merupakan inisator pembentukan paguyuban.
Atas perbuatanya pelaku dijerat dengan Pasal 2 Undang Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Anak dan Pasal 83 Undang Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mereka semua dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sumber :[Kompas.Com]

-------------------------------------------**********-------------------------------------

5 Pengurus Bina Jasa Mina resmi jadi tersangka perdagangan anak 27 Maret 2014

Merdeka.com - Pihak Kepolisian Polres Pelabuhan Tanjung Priok, secara resmi menetapkan 5 dari 9 pengurus agen tenaga kerja Bina Jasa Mina (BJM) sebagai tersangka Human Trafficking. Kelima pengurus BJM yang berkantor di Muara Baru, Jakarta Utara tersebut yaitu MY (35), S (43), YA (41), HA (42) dan SM (44).
Kasus ini terungkap berawal dari adanya laporan masyarakat yang kehilangan anak-anaknya. Berdasarkan informasi yang berkembang, kemudian pihak Kepolisian bergerak dan mengarah ke sebuah ruko Muara Baru Center serta langsung melakukan penggerebekan di lantai 3 tepat lokasi yayasan Penyalur Tenaga kerja BJM, Selasa (25/3) malam. Saat itu, diselamatkan 19 orang calon tenaga kerja dari kantor merangkap penampungan yang akan disalurkan sebagai ABK penangkap ikan. Tiga di antaranya, ternyata masih di bawah umur, MA (15), FS (13) dan IS (14).
Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Asep Adi Saputra mengatakan, 5 orang ditetapkan sebagai tersangka karena mempekerjakan anak di bawah umur. Selain itu, untuk menyalurkan tenaga kerja paguyuban Bina Jasa Mina tidak memiliki izin.
"Selama ini mereka memanipulasi administrasi calon pekerja di bawah umur dalam membuat dokumen. Kelimanya merupakan inisiator dari agen tersebut," ujar Asep, Kamis (27/3).
Dalam merekrut calon tenaga kerja, selain langsung di kantornya, BJM juga menggunakan jasa para calo. Untuk setiap orang yang dapat direkrut, para calo mendapat imbalan sebesar Rp 200-300 ribu. Untuk dapat merekrut, para korban calon tenaga kerja diiming-imingi penghasilan Rp 20 juta/bulan.
Setelah sampai di kantor agen, mereka rata-rata ditampung selama 10 hari. Untuk biaya hidup selama penampungan, mereka ditanggung oleh agen dan ditagih setelah ada kapal yang menerimanya. Untuk setiap tenaga kerja yang disalurkan, mereka memungut Rp 1,5 juta dari pengusaha kapal. Selanjutnya setelah dipotong biaya hidup dan administrasi, calon tenaga kerja hanya diberikan uang sekitar Rp 200 ribu.
"Dari penelusuran sementara mereka sudah beroperasi selama 1 tahun dan sudah menyalurkan sebanyak 77 orang. Kita masih mendalami kemungkinan ada anak-anak lain yang sudah menjadi korban," tegasnya.
Asep menambahkan, selama ini menjadi korban rata-rata merupakan orang-orang dari sekitar Jakarta Utara. Namun beberapa di antaranya ada juga warga Bogor.
Saat ini, kelimanya terancam melanggar pasal 2 Undang-undang No 21 tahun 2007 tentang Tindak Perdagangan Orang subsider pasal 83 UU no 23 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 15 tahun.
Sementara itu salah seorang orangtua korban, Sujana (45), mengapresiasi polisi yang sudah menemukan anaknya IS (14). Warga RW 08 Kelurahan Tuguutara, Koja itu mengaku kehilangan anaknya sejak Sabtu (23/3) lalu.
"Anak saya sedang main ke rumah neneknya di daerah Kota. Kemudian ada calo dari BJM yang memaksa dia. Makanya saya bersyukur anak saya bisa kembali ke rumah," tandasnya.

Sumber : [www.merdeka.com ]

-------------------------------------------**********-------------------------------------

Polisi Selamatkan Anak Korban Perdagangan Orang 26 Maret 2014

TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian Resor Pelabuhan Tanjung Priok berhasil menangkap sembilan orang di Muara Baru, Tanjung Priok, Jakarta Utara, yang diduga melakukan perdagangan manusia.
"Ada sembilan orang yang kami tangkap dan 24 orang yang kami selamatkan," ujar Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Ajun Komisaris Wirdanto Hadicaksono, Rabu, 26 Maret 2014.
Wirdanto menjelaskan, penangkapan ini berawal dari laporan dua warga yang mengaku kehilangan anak mereka. Pelapor, kata Wirdanto, menduga anak mereka berada di Ruko Muara Baru Center.
Berbekal laporan itu, kata Wirdanto, pihaknya melakukan penyelidikan lapangan yang salah satunya mengecek ruko tersebut. Ruko digerebek pada pukul 21.00 WIB kemarin. Ternyata memang benar bahwa ruko tersebut menyembunyikan orang-orang yang akan dipekerjakan sebagai anak buah kapal.
"Dari 24 orang yang berhasil kami selamatkan, satu di antaranya masih di bawah umur, yaitu usia 15 tahun," ujar Wirdanto menambahkan.
Wirdanto mengatakan bahwa ke-24 orang itu telah mereka selamatkan dan ditaruh di tempat yang aman. Di lain pihak, sembilan orang yang ditangkap tengah menjalani pemeriksaan. Hingga saat ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.
"Masih kami dalami dulu, tetapi ini jelas ada tindak pidana yang melanggar UU Perlindungan Anak dan UU Ketenagakerjaan," ujarnya.

Sumber : [ www.tempo.co ]

-------------------------------------------**********-------------------------------------

POLISI AMANKAN 9 ORANG TERKAIT PERDAGANGAN MANUSIA DI JAKUT 26 Maret 2014
TERASJAKARTA - Sebanyak sembilan orang yang diduga pelaku perdagangan manusia (human trafficking) diamankan, saat aparat Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Priok bekerjasama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menggerebek sebuah ruko di Muara Baru Centre, Pelabuhan Muara Baru, Jakarta Utara, Selasa (25/3) malam.
Selain mengamakan 9 pengurus penampungan penyalur tenaga kerja milik Yayasan Bina Jasa Mina (BJM), aparat juga mengamankan sebanyak 23 orang dan satu anak yang diduga sebagai korban trafficking. Selama ini, yayasan tersebut menyalurkan tenaga kerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) ke beberapa kapal nelayan.
Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pelabuhan Tanjung Priok Ajun Komisaris Wirdanto Hadicaksono mengatakan, penggerebekan dilakukan setelah Selasa (25/3) siang menerima laporan dari masyarakat yang mengaku kehilangan anaknya, yakni Muhamad Alwi (15) dan Nur Arifin (23).
Setelah dilakukan penelusuran, diketahui keduanya berada di salah satu yayasan penyalur tenaga kerja di ruko Muara Baru Center, Pelabuhan Muara Baru.
"Kita pun langsung tindaklanjuti laporan warga dengan melakukan penelusuran di lapangan serta menyambangi ruko tersebut. Ternyata benar, anak yang dilaporkan hilang ada sana," katanya, Rabu (26/3).
Sementara itu, Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok, AKBP Asep Adi Saputra, mengatakan yayasan tersebut diketahui tidak memiliki izin.
“Kita Masih melakukan pemeriksaan dan penyidikan lebih mendalam terkait kasus ini. Yayasan ini merekrut orang untuk dipekerjakan sebagai ABK kapal nelayan. Ada 9 pengurus yayasan sedang kita periksa, mereka diduga melakukan pelanggaran UU Tenaga Kerja dan UU Perlindungan Anak,” ungkapnya. (TJ12)

Sumber : [ www.terasjakarta.com ]
-------------------------------------------**********-------------------------------------

Dua Pelaku Perdagangan Orang ke Cina Dibekuk Mabes Polri 21 Maret 2014

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menangkap dua orang Warga Negara Indonesia (WNI) Yeti dan Tanto. Keduanya menjadi pelaku pedagangan orang Indonesia ke Guangzhou Cina.
Penangkapan tersebut bermula setelah ada surat yang dikirim Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzho yang menginformasikan ada delapan orang WNI yang datang ke KJRI setelah melarikan diri dari tempatnya bekerja di Cina dengan alasan dieksploitasi karena tidak digaji selama bekerja.
Perwira Unit Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) Subdit III Direktorat Pidana Umum Bareskrim Polri, AKP Langgeng Utomo mengatakan korban perdagangan orang tersebut masing-masing Susnia, Fitriana Dewi, Poniyem, Ningrum, Alsifa, Dulhalim, Surahman, dan Dede.
Peristiwa bermula saat delapan orang tersebut direkrut Yeti dan Tanto dari beberapa wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah seperti Indramayu, Subang, Purwokerto. Sebelum diberangkat ke Cina, korban ditampung di Perumahan Grand Prima, Bintara, Bekasi. Kemudian dibuatkan paspor oleh pelaku dengan menggunakan data identitas palsu.
"Setelah itu (membuat paspor) dibuatkan visa kunjungan. Jadi modusnya itu diberikan visa kunjungan untuk 30 hari" kata Langgeng di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (20/3/2014).
Di Cina sendiri sudah ada orang yang menampungnya bernama Dong Liu alias Emi seorang warga negara Cina. Kemudian Emi mempekerjakan untuk wanitanya sebagai pembantu rumah tangga sementara untuk yang laki-laki dipekejakan di pabrik
"Ternyata di sana mereka dipekerjakan tapi tidak digaji, sehingga mereka lari ke KJRI untuk minta perlindungan," katanya.
Karena tidak digaji, akhirnya para korban pun lari ke KJRI di Guangzho. Sialnya mereka tidak bisa langsung pulang ke tanah air saat itu karena sudah over stay tinggal di Cina sehingga harus membayar kelebihan ijin tinggal kurang lebih delapan bulan sebesar Rp 22 juta.
Setelah dikomunikasikan KJRI, akhirnya tujuh WNI bisa dipulangkan ke tanah air kecuali Ningrum. Dalam pemulangan tersebut, KJRI pun turut memulangkan WNI bernama Maria yang mengalami over stay di Cina, tetapi bukan bagian dari korban TPPO jaringan Yeti dan Tanto.
Setelah di tanah air, korban pun dimintai keterangan penyidik Bareskrim Polri sampai akhirnya ditangkap lah Yeti dan Tanto. Yeti ditangkap di rumah yang disewanya di Perumahan Grand Prima Bintara Bekasi pada 3 Maret 2014 sementara Tanto ditangkap di Perumahan Budi Indah, Tangerang.
"Keduanya saat ini kita sudah lakukan penangkapan dan penahanan," ujarnya.
Terhadap kedua tersangka dijerat pasal 4 Undang-undang TPPO tentang membawa WNI ke luar negeri dengan maksud untuk dieksploitasi atau pasal 102 Undang-undang Nomor 39 tahun 2004 dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun maksimal 15 tahun. Dari tersangka pun ditemukan barang bukti transaksi melalui western union di Bank Danamon dan Bank DKI.

Sumber : [www.tribunnews.com]

-------------------------------------------**********-------------------------------------

LBH Jakarta laporkan dugaan trafficking PT CKM 11 Maret 2014

Jakarta (ANTARA News) - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta dan Jaringan Advokasi Nasional - Pekerja Rumah Tangga (Jala-PRT) akan melaporkan PT Citra Kartini Mandiri atas dugaan trafficking (perdagangan orang) terhadap puluhan calon pekerja rumah tangga.
"Pada 3 Maret 2014 kami menerima laporan pengaduan dari warga dan korban tentang terjadinya kembali tindak perdagangan orang (trafficking) dan penyekapan terhadap sejumlah PRT oleh PT Citra Kartini Mandiri yang beralamat di Bintaro, Tangerang Selatan," kata Koordinator Jala-PRT Lita Anggraini dalam jumpa pers di Gedung LBH Jakarta di Jakarta, Selasa.
Pengaduan muncul dari korban yang mengalami penyekapan serta dugaan eksploitasi dan perdagangan orang oleh PT CKM bernama Umirotun (23) yang berasal dari Brebes, Jawa Tengah yang dalam kontraknya akan dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga (PRT).
Namun ketika ditempatkan di rumah majikan di Bandung, Umirotun ternyata dipekerjakan sebagai pengasuh anak (sitter) dengan jam kerja mulai pukul 05.00-22.00 WIB atau melebihi jam kerja yang dijanjikan dalam kontraknya selama delapan jam.
Merasa tidak betah, Umirotun kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan tersebut namun PT CKM dituduh telah mempersulit proses tersebut dan menyekap Umirotun hingga membayar uang sebesar Rp2,5 juta.
Selain Umirotun, Jala-PRT menuding masih banyak calon PRT lain yang mengalami nasib serupa dan mengalami kesulitan untuk keluar dari tempat penampungan perusahaan tersebut yang kondisinya dinilai tidak layak.
"Selama menunggu pekerjaan, rata-rata 30-40 PRT berada dalam kondisi tidak layak, tidur di satu ruangan tanpa ventilasi dan hanya memiliki satu kamar mandi untuk digunakan bersama-sama," kata Lita menggambarkan.
Laporan akan dimasukkan ke Polres Tigaraksa Tangerang pada Selasa sore dan juga akan dimasukkan ke Dinas Ketenagakerjaan setempat.
"Jika tidak ditindaklanjuti kami juga akan melaporkan ke Polda Banten dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Kami akan menempuh segala jalur hukum," ujar Pengacara Publik LBH Jakarta Johanes Gea.
Johanes menyebutkan pelaporan tersebut didasarkan antara lain kepada surat kontrak yang cacat dan banyak terjadi pelanggaran butir-butir perjanjian serta adanya upaya penjeratan hutang dari perusahaan.
PT CKM juga dituduh melakukan eksploitasi terhadap calon PRT tersebut dengan meminta uang pelatihan kepada calon majikan sebesar Rp4,8 juta pertahun namun para calon PRT tidak diberikan pelatihan apapun.
Dengan bukti-bukti yang hendak diajukan, Johanes berharap agar kasus itu dapat ditangani dengan menggunakan UU No.21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dan UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak.
Editor: Fitri Supratiwi

Sumber : [ www.antaranews.com]


-------------------------------------------**********-------------------------------------

Jadi korban human trafficking 8 warga NTT lapor polisi 8 Maret 2014

Sindonews.com - Delapan warga Nusa Tenggara Timur diduga menjadi korban perdagangan manusia mengaku tidak pernah digaji dan kerap mendapat perlakukan kasar dari majikan mereka Wayan Mar Hendra.
Kedelapan korban itu masing-masing Agnes (15) asal (Maumere), Regina (20) asal Manggarai Timur, Olandina Ramos (20) asal Belu, Felinda Asna (16) asal Labuan Bajo, Julieta (18) asal Atambua, Rifka (20) asal Sumba Barat Daya, Andreas Feka (25) asal Timor Tengah Utara dan Agustina Rianti (18) asal Desa Nara Nara, Kecamatan Bola.
Menurut Yohanes B. Raharjo dan Lies Subario, staf LBH PETA yang mendampingi para korban, kasus ini sudah dilaporkan ke Polresta Denpasar pada 6 Maret 2014 lalu dengan STLP No: 217/III/2014/Bali/Reska Dps. Terlapor adalah Wayan Mar Hendra.
Wayan Mar Hendra disangkakan Pasal 2 UU No 21 Tahun 2007 tentang Perdagangan Manusia dan Pasal 83 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Yohanes menambahkan, tidak tertutup kemungkinan akan meningkat juga ke undang-undang tentang KDRT.
"Para korban juga sudah di BAP, jadi kita tunggu saja perkembangan selanjutnya dari kepolisian,” timpal Lies Subario.
Sementara Wakil Sekretaris Umum Flobamora Bali, Rahman Sabon Nama mengatakan, dari pengakuan para korban, mereka dipekerjakan di Pabrik Mangsi Kopi di Ubung Kaja, Denpasar milik Wayan Mar Hendra.
Mereka rata-rata sudah bekerja lima bulan sampai 1,5 tahun namun belum sepeserpun digaji oleh majikannya Wana Mar Hendra. Selain itu, mereka tidak tahan dengan pekerjaannya dan diperlakukan kurang manusiawi.
Sehingga tiga di antara mereka kabur dari perusahaan, dan mengadu ke kantor LBH PETA serta ke polisi.

Sumber : [http://daerah.sindonews.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar